BINUS @Malang Gelar Local Culture and Interfaith Expo, Hadirkan Pengalaman Belajar Budaya Peranakan Tionghoa
BINUS @Malang Gelar Local Culture and Interfaith Expo, Hadirkan Pengalaman Belajar Budaya Peranakan Tionghoa
Malang, 28 September 2026 – Indonesia merupakan negara dengan keberagaman budaya yang tumbuh dari berbagai latar belakang sejarah, etnis, agama, dan tradisi yang hidup berdampingan di tengah masyarakat. Keberagaman tersebut tidak hanya menjadi bagian dari identitas bangsa, tetapi juga terus berkembang seiring dengan perubahan zaman dan interaksi antarmasyarakat. Salah satu bentuk keberagaman yang memiliki perjalanan panjang dalam sejarah Indonesia adalah budaya Peranakan Tionghoa, yang telah berinteraksi dan berakulturasi dengan berbagai budaya lokal di Indonesia.
Pemahaman mengenai budaya dan keberagaman menjadi semakin relevan di tengah kehidupan masyarakat yang semakin terbuka dan dinamis. Budaya tidak hanya dapat dipelajari melalui catatan sejarah atau pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman melihat, mencoba, berdiskusi, dan berinteraksi secara langsung dengan berbagai bentuk ekspresi budaya. Pendekatan tersebut dapat membantu generasi muda memahami bahwa keberagaman bukan sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari yang terus berkembang.
Melihat pentingnya ruang pembelajaran tersebut, BINUS @Malang melalui Center of Excellence – Center of BINUS Digital Culture (CBCD) menyelenggarakan Local Culture and Interfaith Expo pada 28 September 2026. Mengangkat budaya Peranakan Tionghoa, kegiatan ini menghadirkan rangkaian seminar, workshop, diskusi, serta pameran yang terbuka bagi mahasiswa maupun masyarakat umum.
Sebagai Kampus Digital Technopreneur, BINUS @Malang terus menghadirkan pengalaman pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan dan teknologi, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk memahami berbagai persoalan dan dinamika yang ada di masyarakat. Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai sejarah dan identitas budaya Peranakan Tionghoa di Indonesia, tetapi juga dapat mengenal berbagai bentuk ekspresi budaya melalui seni lukis, kaligrafi, permainan tradisional, kuliner, literatur, hingga berbagai benda yang merepresentasikan kehidupan sehari-hari.
Campus Director BINUS @Malang, Dr. Robertus Tang Herman, S.E., M.M., mengatakan bahwa pengenalan budaya melalui pengalaman langsung dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran mahasiswa yang lebih luas. “Ketika kita berbicara tentang keberagaman budaya, mahasiswa tidak cukup hanya mengetahui dari sisi teori atau sejarahnya. Mereka juga perlu memiliki kesempatan untuk melihat, merasakan, dan berinteraksi secara langsung dengan budaya tersebut. Melalui kegiatan seperti Local Culture and Interfaith Expo, kami ingin menghadirkan ruang belajar yang lebih terbuka, di mana budaya dapat dipahami melalui dialog, karya, pengalaman, dan interaksi. Harapannya, pengalaman tersebut dapat memberikan pemahaman yang lebih luas dan mendorong mahasiswa untuk menghasilkan kontribusi yang berdampak bagi masyarakat,” ujar Dr. Robertus Tang Herman.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi seminar “Identitas Peranakan Tionghoa di Indonesia” bersama Toni Dian Efendi, yang membahas identitas serta seni lukis tradisional Tionghoa. Sesi ini menjadi ruang bagi peserta untuk melihat perjalanan budaya Peranakan Tionghoa sekaligus memahami berbagai bentuk ekspresi seni yang berkembang di dalamnya. Dilanjutkan dengan Workshop Chinese Painting bersama Chen Xin dan Tim Hakka. Dalam sesi ini, peserta mendapatkan kesempatan untuk mengenal lebih dekat seni lukis tradisional Tionghoa sekaligus mempraktikkannya secara langsung. Peserta juga diajak mengenal Chinese Calligraphy melalui workshop bersama Chen Xin dan Tim Hakka, sehingga dapat berinteraksi langsung dengan salah satu bentuk seni yang memiliki nilai sejarah dan budaya dalam masyarakat Tionghoa. Sementara itu, sesi terakhir menghadirkan Bambang AW dan Sri Pandanari dalam Bedah Buku Lintas Sejarah Etnis Tionghoa di Malang. Diskusi ini membahas sastra Tiongkok dan relevansinya dalam konteks Indonesia, sekaligus mengangkat perjalanan sejarah serta keberadaan etnis Tionghoa dalam perkembangan masyarakat Malang.
Tidak hanya menghadirkan seminar dan workshop, Local Culture and Interfaith Expo juga menyediakan area pameran yang dapat dikunjungi sepanjang kegiatan. Pengunjung dapat menemukan book corner, book sale, Mahjong Game Corner, Chinese Chess, Koa Forecast, Chinese Peranakan Food & Beverage, painting exhibition, photo exhibition, hingga koleksi classic costume and daily life stuff. Berbagai area tersebut memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk mengenal budaya melalui beragam bentuk pengalaman, mulai dari literatur dan karya seni hingga permainan, makanan, pakaian, serta benda-benda keseharian.
Melalui Local Culture and Interfaith Expo, BINUS @Malang menghadirkan ruang pembelajaran yang mempertemukan pengetahuan akademik, budaya, kreativitas, dan interaksi sosial. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan belajar yang mendorong mahasiswa untuk melihat keberagaman secara lebih kontekstual dan memahami bagaimana budaya terus berkembang di tengah masyarakat.
Lebih dari sekadar mengenalkan satu bentuk budaya, kegiatan ini menjadi ruang untuk membuka percakapan dan mempertemukan berbagai perspektif. Dengan pengalaman tersebut, mahasiswa dan masyarakat diharapkan dapat semakin memahami nilai keberagaman serta melihat bagaimana pengetahuan, kreativitas, dan interaksi dapat diterjemahkan menjadi kontribusi yang berdampak bagi lingkungan dan masyarakat.
Local Culture and Interfaith Expo terbuka untuk umum dan menjadi salah satu bentuk komitmen BINUS @Malang sebagai Kampus Digital Technopreneur dalam menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan perkembangan masyarakat. Melalui ruang-ruang seperti ini, proses belajar tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi juga mendorong lahirnya pengalaman, dialog, dan kontribusi yang dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Press Release juga sudah tayang di VRITIMES