{"id":2209,"date":"2026-08-31T13:02:27","date_gmt":"2026-08-31T06:02:27","guid":{"rendered":"https:\/\/www.asiajournaux.com\/?p=2209"},"modified":"2026-08-31T13:02:27","modified_gmt":"2026-08-31T06:02:27","slug":"konsisten-jadi-penggerak-ekonomi-kerakyatan-bri-bukukan-laba-rp312-triliun-pada-triwulan-ii-2026","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.asiajournaux.com\/?p=2209","title":{"rendered":"Konsisten Jadi Penggerak Ekonomi Kerakyatan, BRI Bukukan Laba Rp31,2 Triliun pada Triwulan II 2026"},"content":{"rendered":"<p><b>Jakarta<\/b> \u2013 PT Bank Rakyat Indonesia<br \/>\n(Persero) Tbk atau BRI membukukan kinerja positif hingga akhir Triwulan II<br \/>\n2026. Di tengah dinamika perekonomian dan industri perbankan, BRI mampu menjaga<br \/>\nmomentum pertumbuhan bisnis yang diiringi dengan penguatan fundamental, perbaikan<br \/>\nkualitas aset, serta peningkatan profitabilitas. Hingga akhir Triwulan II 2026,<br \/>\nlaba bersih BRI Group mencapai Rp31,2 triliun, tumbuh 17,5% <i>year on year <\/i>(yoy)<br \/>\ndibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.<\/p>\n<p>Kinerja tersebut juga tetap ditopang oleh<br \/>\nkarakteristik utama bisnis BRI yang berfokus pada segmen Usaha Mikro, Kecil,<br \/>\ndan Menengah (UMKM). Hingga akhir Juni 2026, sebesar 75,1% dari total<br \/>\nportofolio kredit dan pembiayaan BRI Group disalurkan kepada segmen UMKM,<br \/>\nmenegaskan konsistensi perseroan dalam menjalankan perannya sebagai penggerak<br \/>\nekonomi kerakyatan.<\/p>\n<p>Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Utama BRI Hery<br \/>\nGunardi yang didampingi oleh Wakil Direktur Utama BRI Viviana Dyah Ayu R.K,<br \/>\nDirektur Network &amp; Retail Funding BRI Aquarius Rudianto, Direktur Finance<br \/>\n&amp; Strategy BRI Achmad Royadi dan Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti<br \/>\ndalam pemaparan kinerja yang digelar di Kantor Pusat BRI, Jakarta (31\/8\/2026).<\/p>\n<p>Hery menjelaskan capaian positif BRI hingga triwulan<br \/>\nII 2026 tersebut diraih di tengah kondisi perekonomian Indonesia yang tetap<br \/>\nresilien. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan II 2026 berada di kisaran<br \/>\n5,30%, sementara inflasi tercatat sebesar 3,34%. <\/p>\n<p>Di sisi lain, aktivitas bisnis UMKM juga menunjukkan<br \/>\npenguatan, tercermin dari Indeks Bisnis UMKM yang meningkat dari 102,5 pada<br \/>\nakhir 2025 menjadi 104,7 pada Triwulan I 2026. Posisi indeks di atas 100<br \/>\nmenunjukkan bahwa pelaku UMKM secara umum masih berada dalam fase ekspansi dan<br \/>\noptimistis terhadap aktivitas usahanya.<\/p>\n<p>\u201cKondisi tersebut memberikan optimisme bagi BRI karena<br \/>\nUMKM merupakan core business sekaligus bagian penting dari fundamental<br \/>\nperekonomian nasional. Di tengah transformasi yang terus kami jalankan, satu<br \/>\nhal yang tidak berubah adalah komitmen BRI untuk terus tumbuh bersama UMKM dan<br \/>\nekonomi kerakyatan Indonesia,\u201d ujar Hery.<\/p>\n<p>Dari sisi industri, perbankan nasional juga tetap<br \/>\nmenunjukkan fundamental yang solid. Kredit industri perbankan hingga Triwulan<br \/>\nII 2026 tumbuh 12,7% secara tahunan (year-on-year\/yoy), sementara Dana Pihak<br \/>\nKetiga (DPK) tumbuh 10,2% yoy dan dana murah atau CASA meningkat 11,0% yoy.<br \/>\nKualitas aset juga menunjukkan perbaikan dengan Loan at Risk (LaR) industri<br \/>\nturun menjadi 8,5%, sedangkan Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di level 88,3%<br \/>\ndan Return on Asset (ROA) terjaga pada level 2,5%.<\/p>\n<p><b>Transformasi Mulai<br \/>\nBerdampak pada Kinerja<\/b><\/p>\n<p>Dalam menjaga momentum pertumbuhan, BRI terus<br \/>\nmenjalankan transformasi melalui BRIVolution Reignite. Transformasi tersebut<br \/>\ndiarahkan pada dua agenda besar yang dijalankan secara simultan, yakni<br \/>\nmemperkuat <i>funding franchise<\/i> serta melakukan <i>revamp<\/i> terhadap<br \/>\nbisnis inti yang sudah ada sekaligus membangun <i>new core<\/i> sebagai sumber<br \/>\npertumbuhan baru.<\/p>\n<p>Dari sisi<br \/>\npendanaan, BRI berfokus pada upaya memperbesar basis dana murah melalui<br \/>\npendekatan berbasis ekosistem. BRI<br \/>\njuga terus memaksimalkan kapabilitas digital channel mulai dari akuisisi<br \/>\nmerchant, penguatan transaksi BRImo, QRIS hingga BRILink Agen, sekaligus<br \/>\nmemperkokoh dominasi pada klaster bisnis, integrasi <i>value chain<\/i>, serta<br \/>\npenetrasi One BRI Solution.<\/p>\n<p>Pada saat yang sama, BRI terus memperkuat bisnis mikro<br \/>\nsebagai kekuatan utama perseroan melalui penyempurnaan proses bisnis, penguatan<br \/>\nkapabilitas tenaga pemasar atau mantri, serta implementasi manajemen risiko<br \/>\nyang semakin granular. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pertumbuhan<br \/>\nbisnis mikro berjalan beriringan dengan perbaikan kualitas aset.<\/p>\n<p>Selain memperkuat bisnis inti, perseroan juga<br \/>\nmengembangkan sumber pertumbuhan baru melalui akuisisi value chain dan<br \/>\nekosistem, penyempurnaan <i>product value proposition<\/i> dan <i>targeting<\/i><br \/>\nuntuk memperoleh nasabah berkualitas, serta perluasan layanan <i>bullion bank<\/i>.<\/p>\n<p>\u201cTransformasi yang kami jalankan bukan semata untuk<br \/>\nmengejar pertumbuhan yang tinggi. Fokus kami adalah memastikan BRI memiliki<br \/>\nmesin pertumbuhan yang semakin terdiversifikasi, sehat, berkualitas, dan<br \/>\nberkelanjutan. Berbagai agenda tersebut telah kami eksekusi dan mulai<br \/>\nmemberikan dampak positif terhadap fundamental maupun kinerja keuangan BRI,\u201d<br \/>\nujar Hery.<\/p>\n<p>Implementasi berbagai agenda transformasi tersebut<br \/>\ntercermin pada kinerja BRI hingga akhir Triwulan II 2026. Secara konsolidasian,<br \/>\naset BRI mencapai Rp2.352 triliun atau tumbuh 11,7% yoy. Pertumbuhan tersebut<br \/>\nterutama ditopang oleh kredit dan pembiayaan yang meningkat 16,2% yoy menjadi<br \/>\nRp1.646 triliun.<\/p>\n<p>Ekspansi tersebut didukung DPK yang mencapai Rp1.581 triliun atau tumbuh 6,7% yoy.<br \/>\nSejalan dengan pertumbuhan bisnis, net interest income BRI meningkat 9,9% yoy<br \/>\ndari Rp73,3 triliun menjadi Rp80,5 triliun. Pre-Provision Operating Profit<br \/>\n(PPOP) juga meningkat 12,8% yoy menjadi Rp65,7 triliun.<\/p>\n<p>\u201cCapaian tersebut menunjukkan bahwa transformasi mulai<br \/>\nkami konversikan menjadi kinerja. Bagi kami, yang terpenting bukan hanya<br \/>\nseberapa cepat BRI bertumbuh, tetapi bagaimana pertumbuhan tersebut dihasilkan<br \/>\ndari fundamental yang semakin sehat dan pada saat bersamaan memberikan manfaat<br \/>\nyang semakin luas bagi perekonomian,\u201d ungkap Hery.<\/p>\n<p><b>Pertumbuhan Diiringi<br \/>\nFundamental yang Semakin Sehat<\/b><\/p>\n<p>Peningkatan profitabilitas BRI juga berjalan<br \/>\nberiringan dengan penguatan kualitas fundamental. Cost of Fund (CoF) secara<br \/>\nbank only turun dari 3,0% pada Triwulan II 2025 menjadi 2,4% pada Triwulan II<br \/>\n2026. Dari sisi efisiensi, Cost to Income Ratio (CIR) membaik dari 41,9%<br \/>\nmenjadi 39,2%. Kualitas aset juga semakin sehat dengan rasio Non-Performing<br \/>\nLoan (NPL) turun dari 3,0% menjadi 2,9%, sedangkan Cost of Credit (CoC) membaik<br \/>\ndari 3,4% menjadi 3,1%.<\/p>\n<p>Penguatan fundamental tersebut turut menopang<br \/>\nkemampuan perseroan dalam menghasilkan imbal hasil yang solid. ROA BRI tetap<br \/>\nterjaga pada kisaran 2,7%, sementara Return on Equity (ROE) meningkat<br \/>\nsignifikan dari 16,6% pada Triwulan II 2025 menjadi 18,8% pada Triwulan II<br \/>\n2026.<\/p>\n<p>\u201cBerbagai indikator tersebut menunjukkan bahwa<br \/>\npertumbuhan yang kami capai semakin berkualitas. Funding semakin efisien,<br \/>\nefisiensi operasional membaik, kualitas aset semakin sehat, dan kemampuan BRI<br \/>\ndalam menghasilkan return juga semakin kuat,\u201d lanjut Hery.<\/p>\n<p><b>Rp1.235,4 Triliun<br \/>\nKredit Mengalir ke Segmen UMKM<\/b><\/p>\n<p>Di tengah ekspansi bisnis yang semakin<br \/>\nterdiversifikasi, BRI tetap mempertahankan UMKM sebagai <i>core business<\/i><br \/>\nperseroan. Hingga akhir Triwulan II 2026, kredit kepada segmen UMKM mencapai<br \/>\nRp1.235,4 triliun atau tumbuh 8,6% yoy. Dengan demikian, sekitar 75,1% dari<br \/>\nkeseluruhan portofolio kredit dan pembiayaan BRI Group disalurkan kepada segmen<br \/>\nUMKM.<\/p>\n<p>Menurut Hery, besarnya porsi tersebut menunjukkan<br \/>\nbahwa diversifikasi sumber pertumbuhan BRI tidak mengubah DNA perseroan sebagai<br \/>\nbank yang tumbuh bersama ekonomi kerakyatan. Penguatan segmen consumer,<br \/>\nsmall-medium-commercial, corporate, serta pengembangan new <i>core<\/i><br \/>\ndilakukan untuk menciptakan struktur bisnis yang semakin terdiversifikasi,<br \/>\nsementara UMKM tetap menjadi fondasi utama bisnis BRI.<\/p>\n<p>\u201cBRI tetap konsisten menjadikan UMKM sebagai <i>core<br \/>\nbusiness.<\/i> Kami percaya pertumbuhan BRI harus berjalan beriringan dengan<br \/>\npertumbuhan pelaku usaha dan aktivitas ekonomi masyarakat. Karena itu, ekspansi<br \/>\nbisnis yang kami lakukan akan tetap berpijak pada upaya memperluas akses<br \/>\npembiayaan dan memperkuat kapasitas UMKM Indonesia,\u201d kata Hery.<\/p>\n<p><b>Pembiayaan Diperkuat<br \/>\nPemberdayaan, Dorong UMKM Naik Kelas<\/b><\/p>\n<p>Komitmen terhadap ekonomi kerakyatan tidak hanya<br \/>\ndiwujudkan melalui pembiayaan. BRI membangun pendekatan pemberdayaan UMKM<br \/>\nsecara <i>end-to-end<\/i>, mulai dari tingkat desa, komunitas usaha, hingga<br \/>\npelaku usaha secara individual.<\/p>\n<p>Hingga Juni 2026, program Desa BRILiaN telah<br \/>\nmenjangkau lebih dari 5.700 desa binaan. Pada tingkat komunitas usaha, program<br \/>\nKlasterku Hidupku telah menjangkau lebih dari 44 ribu klaster usaha. BRI juga<br \/>\nmemperluas pemberdayaan melalui platform digital LinkUMKM yang telah menjangkau<br \/>\nsekitar 17,3 juta pelaku UMKM. Sementara itu, pendampingan melalui Rumah BUMN<br \/>\ntelah melibatkan sekitar 596 ribu pelaku UMKM hingga Juni 2026.<\/p>\n<p>Ekosistem pemberdayaan tersebut melengkapi peran BRI<br \/>\ndalam memperluas pembiayaan, termasuk melalui KUR. Sepanjang Januari hingga<br \/>\nJuni 2026, BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp103,8 triliun kepada lebih dari<br \/>\n2 juta debitur. Secara kumulatif sejak 2015 hingga Juni 2026, penyaluran KUR<br \/>\nBRI telah mencapai Rp1.539 triliun kepada 48,4 juta nasabah.<\/p>\n<p>Hery menegaskan bahwa pendekatan tersebut mencerminkan<br \/>\nperan BRI yang tidak hanya sebagai financial intermediary, tetapi juga sebagai<br \/>\nenabler pertumbuhan ekonomi kerakyatan.<\/p>\n<p>\u201cBagi BRI, pembiayaan dan pemberdayaan merupakan satu<br \/>\nkesatuan. Kami ingin menciptakan siklus pertumbuhan yang berkelanjutan: UMKM<br \/>\nmemperoleh akses keuangan, mendapatkan pemberdayaan dan pendampingan,<br \/>\nmeningkatkan kapasitas usahanya, kemudian naik kelas dan semakin terintegrasi<br \/>\nke dalam ekosistem ekonomi yang lebih besar,\u201d ujar Hery.<\/p>\n<p>\u201cPada akhirnya, keberhasilan BRI tidak hanya kami ukur<br \/>\ndari pertumbuhan aset, kredit, maupun laba. Yang juga penting adalah seberapa<br \/>\nbesar pertumbuhan tersebut mampu menciptakan nilai, membuka kesempatan bagi<br \/>\npelaku usaha untuk berkembang, dan menggerakkan ekonomi masyarakat. Dengan<br \/>\nfundamental yang semakin kuat dan transformasi yang terus berjalan, BRI akan<br \/>\nkonsisten tumbuh bersama ekonomi kerakyatan Indonesia,\u201d pungkas Hery.<\/p>\n<p>Press Release juga sudah tayang di VRITIMES<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI membukukan kinerja positif hingga akhir&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2210,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"fifu_image_url":"https:\/\/imagedelivery.net\/H6_s_Eb_ylTWnSEV3HlmYQ\/prd\/93d7c15c-bedd-4a68-becd-53dae3580f93\/public","fifu_image_alt":"Konsisten Jadi Penggerak Ekonomi Kerakyatan, BRI Bukukan Laba Rp31,2 Triliun pada Triwulan II 2026","footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-2209","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-indonesia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2209","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.asiajournaux.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2209"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2209\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2210"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.asiajournaux.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2209"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.asiajournaux.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2209"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.asiajournaux.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2209"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}