{"id":1295,"date":"2026-08-15T13:01:52","date_gmt":"2026-08-15T06:01:52","guid":{"rendered":"https:\/\/www.asiajournaux.com\/?p=1295"},"modified":"2026-08-15T13:01:52","modified_gmt":"2026-08-15T06:01:52","slug":"tigo-ai-memperkenalkan-matrix-v4-0-untuk-mendukung-pemasaran-digital-di-asia-tenggara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.asiajournaux.com\/?p=1295","title":{"rendered":"Tigo AI Memperkenalkan Matrix v4.0 untuk Mendukung Pemasaran Digital di Asia Tenggara"},"content":{"rendered":"<p>Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terus membuka peluang baru dalam industri pemasaran digital. Teknologi ini mulai digunakan tidak hanya untuk menghasilkan konten, tetapi juga untuk membantu proses distribusi, pengelolaan kreator, hingga analisis performa kampanye.<br \/>\nDi tengah perkembangan tersebut, Tigo AI memperkenalkan Matrix v4.0 di Indonesia, sebuah sistem pemasaran yang dirancang untuk menghubungkan sejumlah aktivitas pemasaran digital dalam satu platform.<br \/>\nMenurut perusahaan, Matrix v4.0 mengintegrasikan produksi materi kreatif, distribusi konten, aktivitas promosi melalui kreator, serta evaluasi data kampanye.<br \/>\nSistem tersebut dikembangkan dengan mempertimbangkan karakter ekosistem digital di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara.<br \/>\nMenghubungkan Beberapa Proses Marketing<br \/>\nDalam aktivitas pemasaran digital, perusahaan biasanya menggunakan berbagai layanan berbeda untuk membuat konten, mencari kreator, menjalankan kampanye, dan melakukan analisis.<br \/>\nKondisi ini dapat membuat proses pemasaran menjadi lebih kompleks, khususnya bagi bisnis yang menjalankan kampanye di beberapa kanal sekaligus.<br \/>\nMatrix v4.0 mencoba menyederhanakan proses tersebut dengan menghubungkan sejumlah fungsi dalam satu sistem.<br \/>\nMenurut Tigo AI, platform dapat digunakan untuk membantu pembuatan materi pemasaran sekaligus mendukung distribusinya melalui berbagai kanal digital.<br \/>\nBeberapa platform yang menjadi fokus antara lain TikTok, Instagram, dan kanal e-commerce seperti Shopee.<br \/>\nIndonesia Menjadi Salah Satu Pasar Utama<br \/>\nIndonesia memiliki ekosistem media sosial dan e-commerce yang besar sehingga menjadi salah satu pasar penting dalam perkembangan pemasaran digital di Asia Tenggara.<br \/>\nTidak hanya perusahaan berskala besar, UMKM dan pelaku e-commerce juga semakin bergantung pada kanal digital untuk menjangkau konsumen.<br \/>\nTigo AI menyatakan bahwa pengembangan Matrix v4.0 diarahkan untuk mengurangi hambatan penggunaan teknologi AI dalam pemasaran.<br \/>\nDengan pendekatan tersebut, solusi AI diharapkan dapat digunakan oleh bisnis dengan skala yang lebih beragam.<br \/>\nKe depan, perusahaan menyebut akan terus mengembangkan fitur seperti produksi konten multibahasa, live streaming virtual, mekanisme anti-fraud, serta pengendalian risiko kampanye.<br \/>\n\u2014  \u2014  \u2014<br \/>\n2. Produksi Konten AI dan Jaringan Kreator Mulai Terintegrasi dalam Pemasaran Digital<br \/>\nPerkembangan media sosial membuat proses pemasaran semakin bergantung pada kemampuan bisnis dalam menghasilkan dan mendistribusikan konten secara konsisten.<br \/>\nNamun, produksi materi kreatif dan distribusi konten selama ini sering kali dikelola melalui proses yang berbeda.<br \/>\nPerusahaan dapat menggunakan satu penyedia layanan untuk membuat video dan desain, kemudian bekerja sama dengan pihak lain untuk mengelola kreator maupun distribusi konten.<br \/>\nModel seperti ini dapat menambah proses komunikasi dan koordinasi dalam sebuah kampanye.<br \/>\nUntuk menjawab kebutuhan tersebut, Tigo AI mengembangkan sistem yang menggabungkan produksi materi berbasis AI dengan distribusi melalui jaringan kreator.<br \/>\nDari Produksi hingga Distribusi<br \/>\nDalam sistem yang dikembangkan perusahaan, AI digunakan untuk membantu membuat sejumlah jenis materi pemasaran seperti copy media sosial, poster, dan video pendek.<br \/>\nMateri kemudian dapat digunakan di berbagai platform seperti TikTok, Instagram, Shopee, dan Lazada.<br \/>\nTigo AI menyebut sistemnya mendukung beberapa bahasa, termasuk bahasa Indonesia, Inggris, dan Mandarin.<br \/>\nHal tersebut ditujukan untuk membantu bisnis yang menjalankan aktivitas pemasaran di beberapa negara.<br \/>\nSetelah materi dibuat, konten dapat diteruskan kepada micro-creator untuk disesuaikan dengan karakter audiens masing-masing.<br \/>\nPendekatan tersebut menghasilkan format seperti review produk, pengalaman penggunaan, maupun konten rekomendasi.<br \/>\nKonten Native Semakin Mendapat Perhatian<br \/>\nBanyak pengguna media sosial terbiasa menemukan iklan dalam jumlah besar setiap hari.<br \/>\nHal ini membuat brand semakin memperhatikan format konten yang terasa lebih natural dan sesuai dengan karakter platform.<br \/>\nKonten native maupun user-generated content menjadi salah satu pendekatan yang digunakan untuk mengurangi kesan komunikasi yang terlalu komersial.<br \/>\nNamun, efektivitas strategi tersebut tetap dipengaruhi oleh relevansi kreator, kualitas konten, transparansi hubungan komersial, serta kesesuaian produk dengan audiens.<br \/>\nTigo AI menyebut bahwa seluruh proses tersebut dapat dipantau melalui sistem yang sama, mulai dari produksi materi, distribusi kepada kreator hingga data exposure, engagement, traffic, dan conversion.<br \/>\nPlatform juga menyatakan telah menerapkan mekanisme verifikasi untuk membantu mengurangi trafik yang tidak valid.<br \/>\nPerkembangan ini menunjukkan bahwa industri pemasaran digital mulai bergerak dari penggunaan tools yang berdiri sendiri menuju sistem yang lebih terintegrasi.<br \/>\n\u2014  \u2014  \u2014<br \/>\n3. AI Mulai Mengubah Proses dan Biaya Produksi Materi Periklanan<br \/>\nPenggunaan generative AI mulai memberikan perubahan dalam proses produksi materi pemasaran.<br \/>\nJika sebelumnya pembuatan sebuah kampanye membutuhkan keterlibatan copywriter, desainer, editor, tim produksi, hingga fotografer atau videografer, sebagian proses tersebut kini dapat dibantu oleh teknologi AI.<br \/>\nTigo AI menjadi salah satu perusahaan yang mengembangkan teknologi tersebut melalui AI Creative Engine yang digunakan untuk menghasilkan berbagai materi pemasaran.<br \/>\nMenurut perusahaan, sistem tersebut dapat menghasilkan materi tertentu dalam waktu yang sangat singkat.<br \/>\nTigo AI mengklaim bahwa pada kondisi tertentu proses generasi materi dapat mencapai sekitar 0,8 detik.<br \/>\nPerusahaan juga menyebut penggunaan AI berpotensi mengurangi sebagian biaya produksi dibandingkan model produksi konvensional, meskipun tingkat efisiensi pada praktiknya dapat berbeda tergantung jenis dan kompleksitas materi.<br \/>\nSatu Informasi Produk Menjadi Beberapa Konten<br \/>\nAI Creative Engine milik Tigo AI menggunakan informasi dasar seperti produk, positioning brand, selling point, dan target audiens sebagai bahan untuk menghasilkan materi.<br \/>\nDari informasi tersebut, sistem dapat membantu menghasilkan poster, naskah video pendek, hingga copy media sosial.<br \/>\nMateri kemudian dapat disesuaikan dengan kebutuhan berbagai platform digital.<br \/>\nMenurut perusahaan, sistem juga dikembangkan dengan pendekatan lokalisasi agar bahasa dan gaya visual lebih sesuai dengan karakter pasar Indonesia.<br \/>\nHal tersebut menjadi salah satu tantangan penting bagi generative AI.<br \/>\nKonten yang secara teknis terlihat baik belum tentu sesuai dengan budaya, kebiasaan komunikasi, maupun preferensi masyarakat di suatu pasar.<br \/>\nAI Mempercepat Proses Eksperimen Kreatif<br \/>\nSalah satu perubahan yang ditawarkan generative AI adalah kemampuan menghasilkan lebih banyak variasi materi.<br \/>\nBagi advertiser, hal ini memungkinkan proses pengujian ide dilakukan lebih cepat.<br \/>\nBisnis dapat mencoba beberapa versi headline, desain, video, atau konsep komunikasi sebelum menentukan materi yang memberikan respons terbaik.<br \/>\nDengan demikian, peran AI tidak hanya berkaitan dengan efisiensi produksi, tetapi juga dengan kemampuan bisnis melakukan eksperimen kreatif dalam skala lebih besar.<br \/>\nNamun, hasil dari teknologi tersebut tetap membutuhkan evaluasi manusia untuk memastikan kualitas, akurasi informasi, identitas brand, serta kesesuaian dengan audiens.<br \/>\n\u2014  \u2014  \u2014<br \/>\n4. AI Content Factory Menjadi Pendekatan Baru dalam Produksi Materi Marketing<br \/>\nPertumbuhan e-commerce dan media sosial membuat kebutuhan terhadap materi pemasaran terus meningkat.<br \/>\nSatu brand dapat membutuhkan puluhan jenis konten untuk berbagai kebutuhan, mulai dari posting media sosial, promosi produk, video pendek, hingga kampanye penjualan.<br \/>\nKondisi tersebut mendorong berkembangnya konsep AI Content Factory, yaitu sistem yang memanfaatkan AI untuk membantu menghasilkan materi pemasaran secara lebih terstruktur dan dalam jumlah besar.<br \/>\nTigo AI mengembangkan konsep tersebut melalui Smart Content Factory yang mencakup tiga kategori utama: AI copy, AI poster, dan AI short video.<br \/>\nProduksi Konten dalam Satu Sistem<br \/>\nDalam sistem tersebut, pengguna memasukkan informasi produk, target konsumen, serta tema pemasaran.<br \/>\nAI kemudian mengolah informasi tersebut menjadi beberapa jenis materi.<br \/>\nMisalnya, satu informasi produk dapat dikembangkan menjadi caption Instagram, poster promosi, serta video pendek yang digunakan untuk TikTok.<br \/>\nMenurut perusahaan, materi juga dapat disesuaikan dengan konteks bahasa dan karakter pasar Indonesia.<br \/>\nPendekatan ini dapat membantu bisnis yang sebelumnya harus menggunakan beberapa software maupun tenaga profesional untuk pekerjaan yang berbeda.<br \/>\nUMKM dan Brand Memiliki Kebutuhan Berbeda<br \/>\nJumlah materi yang dibutuhkan setiap perusahaan tidak selalu sama.<br \/>\nBrand berskala besar mungkin membutuhkan banyak variasi konten untuk melakukan A\/B testing dan menjalankan kampanye dalam skala besar.<br \/>\nSebaliknya, UMKM mungkin hanya membutuhkan beberapa materi setiap minggu untuk menjaga aktivitas media sosial maupun mempromosikan produk tertentu.<br \/>\nKarena itu, pemanfaatan AI dalam content production berpotensi memberikan manfaat yang berbeda bagi setiap skala bisnis.<br \/>\nBagi perusahaan besar, AI dapat meningkatkan kapasitas produksi.<br \/>\nSementara bagi bisnis kecil, teknologi tersebut dapat membantu mengurangi hambatan dalam menghasilkan materi pemasaran secara rutin.<br \/>\nPerkembangan AI Content Factory menunjukkan bahwa teknologi generatif mulai bergerak dari sekadar alat pembuat gambar atau teks menjadi bagian dari workflow pemasaran perusahaan.<br \/>\n\u2014  \u2014  \u2014<br \/>\n5. Platform Marketing Mulai Menawarkan Layanan Berbeda Berdasarkan Skala Bisnis<br \/>\nTidak semua perusahaan memiliki kebutuhan pemasaran yang sama.<br \/>\nBrand besar biasanya berfokus pada peningkatan awareness, jangkauan pasar, dan pengelolaan kampanye dalam skala besar.<br \/>\nSementara bisnis yang sedang berkembang lebih sering berorientasi pada peningkatan traffic dan conversion.<br \/>\nUMKM memiliki tantangan lain, terutama keterbatasan anggaran, tenaga kerja, dan kemampuan teknis.<br \/>\nPerbedaan kebutuhan tersebut mendorong perusahaan marketing technology untuk mengembangkan layanan yang lebih fleksibel.<br \/>\nTigo AI termasuk salah satu platform yang memperkenalkan sistem layanan pemasaran berdasarkan skala bisnis.<br \/>\nBrand Besar<br \/>\nUntuk perusahaan berskala besar, kebutuhan marketing biasanya mencakup produksi konten dalam volume tinggi, distribusi melalui sejumlah kanal, serta analisis data kampanye.<br \/>\nTigo AI menyediakan kombinasi materi kreatif berbasis AI, jaringan micro-creator, serta data lintas kanal untuk kategori tersebut.<br \/>\nBisnis yang Sedang Berkembang<br \/>\nUntuk seller maupun perusahaan yang sedang memperbesar skala bisnis, fokus kampanye dapat lebih diarahkan pada traffic dan conversion.<br \/>\nDalam konteks e-commerce, pendekatan tersebut dapat mencakup produksi konten promosi dan distribusi melalui kreator yang diarahkan ke kanal seperti Shopee atau Lazada.<br \/>\nUMKM<br \/>\nBagi UMKM, kesederhanaan operasional menjadi salah satu faktor penting.<br \/>\nPelaku usaha kecil umumnya tidak memiliki tim marketing yang terdiri dari desainer, copywriter, social media specialist, dan video editor.<br \/>\nKarena itu, penggunaan sistem yang mengintegrasikan beberapa pekerjaan dapat mengurangi hambatan awal untuk menjalankan promosi digital.<br \/>\nMenurut Tigo AI, pengguna dapat memilih layanan berdasarkan skala usaha, anggaran, dan tujuan kampanye.<br \/>\nModel bertingkat seperti ini mencerminkan semakin beragamnya kebutuhan pelaku ekonomi digital Indonesia.<br \/>\n\u2014  \u2014  \u2014<br \/>\n6. AI Membuka Alternatif Promosi Digital bagi UMKM dengan Anggaran Terbatas<br \/>\nDigitalisasi memberikan banyak peluang bagi UMKM Indonesia, tetapi aktivitas pemasaran online masih menjadi tantangan bagi sebagian pelaku usaha.<br \/>\nMembuat konten secara konsisten membutuhkan waktu dan kemampuan tertentu, sedangkan menggunakan jasa profesional dapat meningkatkan biaya operasional.<br \/>\nPerkembangan generative AI mulai menawarkan alternatif baru.<br \/>\nTeknologi tersebut memungkinkan berbagai aktivitas dasar seperti pembuatan copy, desain promosi, dan video pendek dilakukan dengan proses yang lebih sederhana.<br \/>\nTigo AI menjadi salah satu platform yang menawarkan layanan pemasaran berbasis AI untuk segmen UMKM.<br \/>\nMenurut informasi perusahaan, layanan tertentu dapat digunakan dengan anggaran awal mulai sekitar Rp50 ribu, tergantung jenis kampanye dan kebutuhan pengguna.<br \/>\nDari Informasi Produk ke Materi Promosi<br \/>\nDalam sistem yang dikembangkan platform, pemilik usaha memberikan informasi dasar mengenai produk.<br \/>\nAI kemudian dapat membantu menghasilkan beberapa jenis materi seperti copy media sosial, poster, dan video pendek.<br \/>\nMateri tersebut dapat digunakan untuk akun bisnis atau didistribusikan melalui jaringan micro-creator.<br \/>\nBagi UMKM, pendekatan ini dapat mengurangi kebutuhan memiliki kemampuan desain maupun editing secara mendalam.<br \/>\nMemulai dari Skala Kecil<br \/>\nSalah satu tantangan dalam pemasaran adalah menentukan seberapa besar anggaran yang perlu dikeluarkan.<br \/>\nBisnis kecil umumnya memiliki toleransi risiko yang lebih rendah dibanding perusahaan besar.<br \/>\nKarena itu, kemampuan memulai kampanye dalam skala kecil dapat memberikan kesempatan kepada pelaku usaha untuk melakukan eksperimen sebelum meningkatkan investasi.<br \/>\nMenurut Tigo AI, pengguna dapat memantau indikator seperti exposure dan engagement untuk mengevaluasi respons kampanye.<br \/>\nData tersebut kemudian dapat digunakan sebagai salah satu pertimbangan dalam menentukan strategi berikutnya.<br \/>\nMeskipun AI dapat menurunkan sebagian hambatan produksi, keberhasilan pemasaran tetap dipengaruhi oleh kualitas produk, harga, pelayanan, strategi distribusi, kreativitas komunikasi, serta kesesuaian dengan target konsumen.<br \/>\n\u2014  \u2014  \u2014<br \/>\n7. Review Pengguna dan Micro-Creator Semakin Berperan dalam Strategi E-Commerce<br \/>\nUlasan menjadi salah satu elemen yang diperhatikan konsumen sebelum melakukan pembelian secara online.<br \/>\nSelain membaca informasi produk yang disediakan seller, pembeli juga dapat melihat komentar pelanggan, video review, maupun pengalaman pengguna di media sosial.<br \/>\nFenomena tersebut membuat reputasi digital semakin penting dalam persaingan e-commerce.<br \/>\nTigo AI mengembangkan pendekatan pemasaran yang menggabungkan jaringan micro-creator dengan produksi konten berbasis AI.<br \/>\nMenurut perusahaan, sistem digunakan untuk membantu seller memperoleh distribusi konten dari pengguna atau kreator yang relevan.<br \/>\nDari Media Sosial ke E-Commerce<br \/>\nDalam model tersebut, kreator dapat membuat konten berupa pengalaman penggunaan, foto produk, ataupun video review yang kemudian dipublikasikan melalui kanal seperti TikTok dan Instagram.<br \/>\nKonten tersebut dapat menjadi bagian dari perjalanan konsumen sebelum akhirnya mengunjungi halaman produk di marketplace.<br \/>\nPendekatan semacam ini mencoba menghubungkan social media discovery dengan transaksi e-commerce.<br \/>\nKeaslian Tetap Menjadi Faktor Penting<br \/>\nPenggunaan review sebagai bagian dari strategi marketing perlu dibedakan dari manipulasi ulasan.<br \/>\nReview palsu dapat merugikan konsumen, merusak reputasi brand, dan bertentangan dengan kebijakan sejumlah platform.<br \/>\nTigo AI menyatakan bahwa sistemnya memiliki mekanisme verifikasi untuk membantu memastikan aktivitas dilakukan oleh pengguna nyata serta mengurangi risiko trafik yang tidak valid.<br \/>\nMenurut perusahaan, platform juga digunakan untuk membantu bisnis memilih kreator berdasarkan kategori produk serta melihat data exposure, engagement, dan traffic.<br \/>\nBagi produk baru, konten dari pengguna dapat membantu meningkatkan percakapan mengenai produk sekaligus memberikan feedback kepada seller.<br \/>\nNamun, kredibilitas strategi tersebut tetap bergantung pada transparansi, pengalaman penggunaan yang nyata, serta kebebasan kreator dalam menyampaikan pendapat.<br \/>\nKe depan, perpaduan antara micro-creator, UGC, social commerce, dan e-commerce diperkirakan akan semakin banyak digunakan sebagai bagian dari strategi pemasaran digital.<br \/>\n\u2014  \u2014  \u2014<br \/>\n8. Tigo Mengembangkan Sistem Produksi Short Drama Berbasis AI dalam Skala Besar<br \/>\nPerkembangan artificial intelligence mulai memberikan dampak pada industri produksi video dan konten hiburan.<br \/>\nTeknologi generative AI kini dapat digunakan dalam berbagai tahap produksi, mulai dari pengembangan naskah, pembuatan karakter, desain latar, suara, hingga video.<br \/>\nTigo menjadi salah satu platform yang mencoba menerapkan teknologi tersebut dalam produksi serial video pendek atau short drama.<br \/>\nPada Agustus 2026, perusahaan memperkenalkan konsep layanan \u201c100 Episode Short Drama dalam 1 Hari\u201d.<br \/>\nMenurut perusahaan, angka tersebut menggambarkan target kapasitas produksi yang dapat dicapai melalui workflow AI yang telah distandardisasi, bukan berarti setiap proyek secara otomatis menghasilkan 100 episode dalam kondisi yang sama.<br \/>\nDari Produksi Berbasis Proyek ke Workflow Terstandardisasi<br \/>\nProduksi serial video secara tradisional membutuhkan banyak tenaga kerja.<br \/>\nProses dapat melibatkan penulis naskah, sutradara, pemain, tim kamera, lighting, lokasi, editor, voice-over, hingga tim pascaproduksi.<br \/>\nUntuk proyek dengan jumlah episode besar, proses tersebut membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit.<br \/>\nTigo mencoba menerapkan pendekatan berbeda.<br \/>\nTema dan konsep cerita terlebih dahulu dikembangkan menjadi struktur karakter, dunia cerita, serta format episode.<br \/>\nSetelah elemen dasar tersebut ditentukan, AI digunakan untuk membantu mempercepat berbagai bagian produksi.<br \/>\nAI Script Generation<br \/>\nAI dapat digunakan untuk menyusun struktur cerita berdasarkan genre, audiens, dan kebutuhan platform.<br \/>\nProses tersebut mencakup pengembangan karakter, konflik utama, serta alur setiap episode.<br \/>\nAI Character Generation<br \/>\nTeknologi generatif digunakan untuk membuat desain karakter dan mempertahankan konsistensi tampilan di berbagai scene dan episode.<br \/>\nKonsistensi karakter masih menjadi salah satu tantangan utama dalam produksi video berbasis AI.<br \/>\nAI Scene Generation<br \/>\nAI memungkinkan pembuat konten menghasilkan berbagai lingkungan tanpa membangun seluruh set secara fisik.<br \/>\nLatar tersebut dapat berupa sekolah, rumah, kantor, kawasan perkotaan, dunia historis, maupun lingkungan futuristik.<br \/>\nAI Video Generation<br \/>\nVisual statis kemudian dapat dikembangkan menjadi rangkaian shot atau video menggunakan teknologi generative video.<br \/>\nAI Voice-Over dan Dialogue<br \/>\nTeknologi suara sintetis dapat digunakan untuk menghasilkan dialog dalam beberapa bahasa maupun karakter suara yang berbeda.<br \/>\nKemampuan ini membuka kemungkinan lokalisasi konten untuk berbagai negara.<br \/>\nAI Subtitle dan Post-Production<br \/>\nSebagian proses subtitle, editing dasar, audio, dan pengolahan visual juga dapat diotomatisasi.<br \/>\nDengan menggabungkan beberapa tahapan tersebut dalam satu workflow, proses produksi yang sebelumnya tersebar ke banyak fungsi dapat dikelola secara lebih terintegrasi.<br \/>\nMengapa Mengejar Skala Produksi?<br \/>\nDalam ekosistem TikTok, Instagram Reels, YouTube Shorts, dan platform video pendek lainnya, konsistensi publikasi menjadi salah satu tantangan utama kreator.<br \/>\nSatu konten viral dapat menghasilkan pertumbuhan tinggi dalam waktu singkat, tetapi mempertahankan perhatian audiens membutuhkan produksi konten secara terus-menerus.<br \/>\nMenurut Tigo, konsep 100 episode bukan hanya tentang jumlah video.<br \/>\nPerusahaan ingin mengembangkan sistem di mana karakter, dunia cerita, dan format produksi dibuat terlebih dahulu sehingga proses berikutnya dapat dilakukan lebih cepat.<br \/>\nPendekatan tersebut juga memungkinkan kreator menguji beberapa genre dan konsep cerita dalam waktu yang relatif singkat.<br \/>\nTidak Hanya untuk Industri Film<br \/>\nTigo menyebut sistem tersebut tidak hanya ditujukan kepada studio film atau perusahaan produksi profesional.<br \/>\nBrand dapat menggunakan serial cerita sebagai bagian dari branded content.<br \/>\nProduk dapat ditempatkan sebagai bagian dari cerita, bukan hanya muncul dalam format iklan konvensional.<br \/>\nBisnis lokal juga dapat mengembangkan cerita untuk sektor seperti kuliner, kecantikan, pendidikan, maupun pariwisata.<br \/>\nSementara kreator individual dapat menggunakan teknologi tersebut untuk membangun karakter dan intellectual property mereka sendiri.<br \/>\nIndonesia Menjadi Pasar Menarik untuk Eksperimen AI Short Drama<br \/>\nIndonesia memiliki basis pengguna media sosial yang besar dan aktivitas konsumsi video pendek yang tinggi.<br \/>\nKondisi ini membuat Indonesia menjadi salah satu pasar yang menarik untuk perkembangan format konten baru.<br \/>\nVideo pendek, live streaming, social commerce, e-commerce, dan storytelling juga semakin saling terhubung.<br \/>\nMenurut Tigo, perkembangan tersebut berpotensi membuat short drama tidak hanya berfungsi sebagai konten hiburan tetapi juga sebagai salah satu format komunikasi pemasaran.<br \/>\nAlih-alih hanya membuat satu iklan, sebuah brand dapat membangun rangkaian cerita yang terus diikuti pengguna.<br \/>\nMeski demikian, peningkatan kapasitas produksi tidak otomatis menjamin keberhasilan sebuah konten.<br \/>\nKualitas cerita, konsistensi karakter, kreativitas, relevansi budaya, serta kemampuan memahami audiens tetap menjadi faktor penting.<br \/>\nPerkembangan AI kemungkinan akan membuat proses produksi menjadi semakin mudah diakses.<br \/>\nNamun, persaingan selanjutnya bukan hanya mengenai siapa yang mampu menghasilkan lebih banyak video, melainkan siapa yang mampu menghasilkan cerita yang relevan dan cukup menarik untuk terus diikuti audiens.<\/p>\n<p>Press Release juga sudah tayang di VRITIMES<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terus membuka peluang baru dalam industri pemasaran digital&#8230;.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1296,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"fifu_image_url":"https:\/\/imagedelivery.net\/H6_s_Eb_ylTWnSEV3HlmYQ\/prd\/20089446-0d35-41d5-9b3f-1ab93404f788\/public","fifu_image_alt":"Tigo AI Memperkenalkan Matrix v4.0 untuk Mendukung Pemasaran Digital di Asia Tenggara","footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-1295","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-indonesia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1295","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.asiajournaux.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1295"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1295\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1296"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.asiajournaux.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1295"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.asiajournaux.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1295"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.asiajournaux.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1295"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}