{"id":1215,"date":"2026-08-13T17:06:09","date_gmt":"2026-08-13T10:06:09","guid":{"rendered":"https:\/\/www.asiajournaux.com\/?p=1215"},"modified":"2026-08-13T17:06:09","modified_gmt":"2026-08-13T10:06:09","slug":"idx-brids-dan-iix-perkuat-ekosistem-obligasi-tematik-untuk-mengembangkan-potensi-pasar-senilai-rp7-800-triliun","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.asiajournaux.com\/?p=1215","title":{"rendered":"IDX, BRIDS, dan IIX Perkuat Ekosistem Obligasi Tematik untuk Mengembangkan Potensi Pasar Senilai Rp7.800 Triliun"},"content":{"rendered":"<p>IDX, IIX, dan BRIDS menyelenggarakan Indonesia Thematic Bonds Roundtable untuk membahas peluang pengembangan obligasi tematik dalam mendukung perekonomian yang inklusif dan tangguh.<\/p>\n<p>Dengan Orange Bond sebagai salah satu studi kasus utama, forum ini mempertemukan pelaku pasar untuk membahas peluang pasar, praktik terbaik, serta langkah konkret dalam memperluas pipeline obligasi tematik di Indonesia.<\/p>\n<p><b>Jakarta,<br \/>\n13 Agustus 2026<\/b> \u2013 Indonesia memiliki salah satu pasar<br \/>\nobligasi mata uang lokal terbesar di Asia Tenggara, dengan nilai outstanding<br \/>\nmencapai sekitar Rp7.800 triliun (setara dengan USD480 miliar). Pemerintah<br \/>\nIndonesia juga telah menunjukkan kepemimpinan global dalam pengembangan<br \/>\nkeuangan berkelanjutan, termasuk sebagai penerbit green sukuk terbesar di dunia,<br \/>\nsebuah instrumen pembiayaan inovatif yang kini telah direplikasi oleh berbagai<br \/>\nnegara berkembang lainnya. Saat ini, surat utang negara mencakup lebih dari 90%<br \/>\npasar obligasi domestik, mencerminkan peran sentral obligasi pemerintah<br \/>\nsekaligus menjadi fondasi yang kuat bagi pengembangan keuangan berkelanjutan di<br \/>\nmasa depan.<\/p>\n<p>Di tengah kondisi<br \/>\ntersebut, Indonesia mencatat tonggak baru dengan menjadi negara dengan komitmen<br \/>\npenerbitan Orange Bond terbesar di dunia sekaligus negara pertama yang<br \/>\nmenerbitkan Orange Sukuk. Pencapaian ini justru didorong oleh sektor korporasi.<br \/>\nJika penerbitan obligasi tematik di Indonesia selama ini banyak ditopang oleh<br \/>\npemerintah, transaksi ini menandai semakin besarnya peran korporasi dalam<br \/>\nmendorong keuangan berkelanjutan, sekaligus membuka potensi pertumbuhan pasar<br \/>\nyang saling melengkapi.\u00a0<\/p>\n<p>Sejalan<br \/>\ndengan momentum tersebut, Indonesia juga menargetkan penghimpunan Orange<br \/>\nCapital sebesar USD10 miliar pada tahun 2030, sebagaimana disepakati bersama<br \/>\nKementerian Perencanaan Pembangunan Nasional\/Badan Perencanaan Pembangunan<br \/>\nNasional (Bappenas). Pendanaan ini ditujukan untuk memberdayakan 100 juta<br \/>\nperempuan, anak perempuan, dan kelompok minoritas gender, khususnya dalam<br \/>\nmendukung aksi iklim dan pembangunan berkelanjutan yang berperspektif gender.<\/p>\n<p>Untuk<br \/>\nmemperkuat momentum tersebut<b>, <\/b><a href=\"https:\/\/www.bing.com\/ck\/a?!&amp;&amp;p=b801dd3344a55ed9bf2d32e41f81567a93f932decc4361355b9f14a48fbe2286JmltdHM9MTc4NjU3OTIwMA&amp;ptn=3&amp;ver=2&amp;hsh=4&amp;fclid=11c7f3f2-d1b4-65ba-3352-e476d5b46b7f&amp;psq=bursa+efek+indonesia&amp;u=a1aHR0cHM6Ly93d3cuaWR4LmlkLw\">PT Bursa Efek Indonesia (IDX),<\/a> <a href=\"https:\/\/www.bing.com\/ck\/a?!&amp;&amp;p=c53e7bf25735098087ba9cae7d13357cec0598b4f706c1ba7db09f438347f458JmltdHM9MTc4NjU3OTIwMA&amp;ptn=3&amp;ver=2&amp;hsh=4&amp;fclid=11c7f3f2-d1b4-65ba-3352-e476d5b46b7f&amp;psq=impact+investment+exchange&amp;u=a1aHR0cHM6Ly9paXhnbG9iYWwuY29tLw\">Impact<br \/>\nInvestment Exchange (IIX)<\/a>, dan <a href=\"https:\/\/www.bing.com\/ck\/a?!&amp;&amp;p=6ee2aa1cc9bdfda55ab8c5cc4b1b1d80dfaa5ca6fe8429ab946ceb9b37f01ee1JmltdHM9MTc4NjU3OTIwMA&amp;ptn=3&amp;ver=2&amp;hsh=4&amp;fclid=11c7f3f2-d1b4-65ba-3352-e476d5b46b7f&amp;psq=bri+danareksa+sekuritas&amp;u=a1aHR0cHM6Ly93d3cuYnJpZGFuYXJla3Nhc2VrdXJpdGFzLmNvLmlkLw\">PT BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS)<br \/>\n<\/a>menyelenggarakan Indonesia Thematic Bonds Roundtable bertajuk &#8220;Indonesia&#8217;s<br \/>\nTrillion-Rupiah Opportunity: Advancing an Inclusive and Resilient Economy<br \/>\nthrough Thematic Bonds\u201d yang diselenggarakan di Main Hall Bursa Efek Indonesia. <\/p>\n<p>Forum<br \/>\nini mempertemukan calon penerbit obligasi dan para pelaku pasar modal untuk<br \/>\nmembahas perkembangan pasar obligasi tematik di Indonesia, termasuk kerangka<br \/>\nkerja sebelum dan sesudah penerbitan (pre- and post-issuance framework) yang<br \/>\nditerapkan oleh para penerbit, dengan Orange Bond sebagai studi kasus utama.<br \/>\nSelain itu, forum ini juga akan membagikan pembelajaran dan praktik terbaik<br \/>\ndari berbagai penerbitan obligasi tematik, sekaligus merumuskan langkah-langkah<br \/>\nkonkret untuk memperluas pipeline transaksi obligasi berbasis dampak<br \/>\n(impact-linked bonds) di Indonesia.<\/p>\n<p><b>Listyorini Dian<br \/>\nPratiwi, Wakil Direktur Pengembangan Perusahaan Tercatat Bursa Efek Indonesia,<\/b><br \/>\n<i>mengatakan, &#8220;Momentum saat ini memberikan keyakinan kepada kami bahwa<br \/>\ntarget perolehan dana dari penerbitan instrumen utang berkelanjutan sebesar<br \/>\nlebih dari Rp200 triliun pada 2030, sebagaimana ditetapkan dalam Sustainable<br \/>\nFinance Roadmap, dapat tercapai. Nilai perolehan dana dari instrumen utang<br \/>\nberkelanjutan terus menunjukkan tren peningkatan dan sejak 2023 telah<br \/>\nberkontribusi lebih dari 10% terhadap total nilai perolehan dana instrumen<br \/>\nutang kami. Penerbitan Orange Bond dan Orange Sukuk oleh PNM tahun lalu yang<br \/>\nmenjadi terobosan baru juga menunjukkan adanya permintaan yang jelas dari pasar<br \/>\nIndonesia terhadap peluang investasi yang berfokus pada gender. Seiring dengan<br \/>\nterus bertumbuhnya basis investor di pasar kami, kami meyakini pasar Indonesia<br \/>\nmampu menyerap lebih banyak penawaran instrumen utang berkelanjutan yang<br \/>\ninovatif dengan skala lebih besar di masa mendatang.&#8221;<\/i><\/p>\n<p><b>Prof.<br \/>\nShahnaz, CEO dan Founder Impact Investment Exchange (IIX),<\/b> mengatakan, <i>&#8220;Selama lebih dari dua dekade, IIX membangun<br \/>\ninfrastruktur pasar modal yang mampu menyalurkan investasi swasta untuk<br \/>\nmendorong kesetaraan gender dan ketahanan terhadap perubahan iklim. Indonesia<br \/>\ntelah lama menjadi pasar prioritas bagi kami, mengingat besarnya pasar modal<br \/>\nnasional serta ambisi Indonesia dalam mengembangkan keuangan berkelanjutan. Penerbitan<br \/>\nperdana Orange Bond di Indonesia, yang didorong oleh sektor korporasi,<br \/>\nmembuktikan bahwa modal tematik dapat bergerak melampaui neraca pemerintah dan<br \/>\nmasuk ke arus utama pasar. Seiring Indonesia berupaya memobilisasi Orange<br \/>\nCapital sebesar USD10 Miliar pada 2030, kami terus bekerja bersama para mitra<br \/>\nekosistem, termasuk BEI, BRIDS, serta para penerbit, investor, dan regulator<br \/>\nyang membentuk pasar ini, untuk menjalankan misi kami membangun perekonomian<br \/>\nyang inklusif dan tangguh melalui pasar modal yang memberikan manfaat bagi<br \/>\nsemua. Roundtable ini merupakan bentuk kolaborasi yang kami butuhkan untuk<br \/>\nmewujudkannya.&#8221;<\/i><\/p>\n<p><b>Plt.<br \/>\nDirektur Utama, Fifi Virgantria <\/b><i>mengatakan, \u201cObligasi<br \/>\ntematik membuka peluang besar untuk menghubungkan kebutuhan pendanaan korporasi<br \/>\ndengan meningkatnya minat investor terhadap investasi berkelanjutan. Sebagai<br \/>\nJoint Lead Underwriter (JLU) yang telah memimpin sejumlah penerbitan Orange<br \/>\nBond dan Orange Sukuk, termasuk untuk PNM dan FIF, BRIDS melihat langsung<br \/>\nbesarnya potensi pasar ini. Melalui kolaborasi dengan IDX dan IIX, kami<br \/>\nberharap semakin banyak perusahaan yang memanfaatkan obligasi tematik sebagai<br \/>\nalternatif pendanaan sekaligus mempercepat terbentuknya pipeline penerbit<br \/>\nobligasi tematik di Indonesia.\u201d<\/i><\/p>\n<p>Rangkaian<br \/>\nacara roundtable meliputi pemaparan utama dari Bursa Efek Indonesia, sesi<br \/>\npengenalan Orange Bond beserta peluang pasarnya oleh IIX, serta talk show<br \/>\nmengenai penerbitan Orange Bond pertama di Indonesia yang menghadirkan BRI<br \/>\nDanareksa Sekuritas, IIX, dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Acara akan<br \/>\ndilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan networking.<\/p>\n<p>Indonesia<br \/>\nThematic Bonds Roundtable diharapkan menjadi langkah awal untuk memperluas<br \/>\npartisipasi sektor korporasi dalam pasar obligasi tematik sekaligus mendukung<br \/>\ntarget nasional menghimpun Orange Capital sebesar USD10 miliar pada tahun 2030,<br \/>\nsejalan dengan posisi Indonesia sebagai ekonomi terbesar dan salah satu pasar<br \/>\nmodal paling berkembang di Asia Tenggara.<\/p>\n<p>Untuk informasi lebih lanjut mengenai Orange<br \/>\nCapital dan kerangka kerja Orange Bond, kunjungi<a href=\"https:\/\/orangemovement.global\/\"> https:\/\/orangemovement.global\/<\/a><\/p>\n<p>Press Release juga sudah tayang di VRITIMES<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>IDX, IIX, dan BRIDS menyelenggarakan Indonesia Thematic Bonds Roundtable untuk membahas peluang pengembangan obligasi tematik&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1216,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"fifu_image_url":"https:\/\/imagedelivery.net\/H6_s_Eb_ylTWnSEV3HlmYQ\/prd\/f3093693-9a97-45bc-8621-2d2c20120fa4\/public","fifu_image_alt":"IDX, BRIDS, dan IIX Perkuat Ekosistem Obligasi Tematik untuk Mengembangkan Potensi Pasar Senilai Rp7.800 Triliun","footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-1215","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-indonesia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1215","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.asiajournaux.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1215"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1215\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.asiajournaux.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1216"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.asiajournaux.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1215"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.asiajournaux.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1215"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.asiajournaux.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1215"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}